Ada salah satu tim yang pernah kalahkan Arsenal!
Liga Sepakbola Utama, disingkat Galatama merupakan sebuah kompetisi liga yang didirikan pada tahun 1979 dan berakhir pada tahun 1994 dengan bergabung bersama Perserikatan dan membentuk Liga Indonesia. Galatama merupakan pelopor persepakbolaan profesional di Asia bersama Liga Hongkong.
Di eranya, Galatama memproduksi banyak klub legendaris seperti Warna Agung, Arseto, NIAC Mitra, Pelita Jaya, dan klub klub lainnya. Persaingan klub yang ketat juga kerap diwarnai oleh insiden pengaturan skor sehingga banyak klub yang bubar akibat merasa dirugikan.
Galatama juga merupakan ajang persaingan pemain-pemain langganan Timnas Indonesia seperti Herry Kiswanto, Rully Nere, Widodo C. Putro, Miro Baldo Bento, dan Ricky Yacobi. Pemain-pemain asingnya juga tak kalah hebat, kebanyakan pemain asing dahulu pernah bermain di Piala Dunia, contohnya adalah duo pemain Singapura yang bermain untuk NIAC Mitra, yakni Fandi Ahmad dan David Lee, serta pemain Pelita Jaya yang menjadi legenda timnas Argentina, yakni Mario Kempes.
Persaingan antarklub dan antarpemain membuat Galatama kian menarik, sayangnya Galatama kurang populer dari Perserikatan, itulah yang membuat masyarakat kini hanya mengenal sedikit, atau bahkan tidak mengenali satupun klub dari Galatama. Oleh karena itu, saya membuat artikel ini, tujuannya adalah membuat masyarakat peduli tentang sejarah Galatama, dan membuat masyarakat tahu lebih banyak tentang Galatama
Ingin tahu tentang 11 klub legendaris era Galatama? Mari kita simak bacaan berikut.
1. Pardedetex
Pardedetex merupakan klub legendaris Indonesia yang berasal dari Kota Medan. Pardedetex dibentuk oleh pengusaha yang bernama Tumpal Dorianus Pardede yang saat itu merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia. T. D. Pardede memiliki perusahaan tekstil yang cukup sukses, bahkan ia menjadi orang terkaya di Tapanuli pada masa pendudukan Jepang.
Hal itulah yang membuat Pardedetex menjadi klub pertama Indonesia yang merekrut pemain asing, salah satunya adalah Jairo Matos, yang direkrut oleh Pardedetex pada tahun 1982.
Beberapa pemain timnas era 70-an seperti Herry Kiswanto , Iswadi Idris, dan Soetjipto Soentoro pernah memperkuat Pardedetex. Pardedetex bersama dengan PSMS Medan dan Mertju Buana saat itu membuat Sumatera Utara menjadi pusat perhatian sepakbola Indonesia saat itu.
Pardedetex saat itu selalu menempati top 10 dalam klasemen Galatama. Sayangnya, Pardedetex belum pernah memenangkan satupun gelar juara Liga Galatama.
Pardedetex mengalami penurunan di tahun-tahun terakhirnya. Pak TD Pardede sendiri tidak mampu mengurus klub karena penyakitnya. Prestasi klub menurun, Pardedetex sendiri seringkali terlibat kasus pengaturan skor, yang semakin memperburuk situasi.
Pardedetex akhirnya dibubarkan pada tahun 1984.
2. Jayakarta
Jayakarta merupakan klub sepakbola yang berbasis di Jakarta. Jayakarta merupakan salah satu dari sekian banyak klub Galatama asal Jakarta lainnya, seperti Arseto FC (dahulu di Jakarta), BBSA Tama (mengundurkan diri), Buana Putra, Cahaya Kita, Indonesia Muda, Tunas Inti, dan Warna Agung. Jayakarta pernah menempati posisi runner up pada musim 1979-80 dan 1980-82.
Beberapa pemain legenda Jayakarta adalah Reva Dedy Utama dan David Sulaksmono, pemain yang pernah membela Indonesia di Piala Dunia Junior 1979, serta Iswadi Idris, legenda Timnas Indonesia dan Persija.
Jayakarta dibubarkan pada tahun 1982, klub yang baru seumur jagung tersebut diduga sering terlibat kasus pengaturan skor.
3. Warna Agung
Warna Agung mungkin sudah tidak asing di telinga penggemar sepakbola jadul. Warna Agung sendiri merupakan klub yang berprestasi di era Galatama, walaupun dibentuk tahun 1970 atau 10 tahun sebelum musim perdananya. Warna Agung pernah menjuarai Galatama edisi pertama, yaitu edisi 1979-80. Warna Agung dibawah asuhan Drg. Endang Witarsa dan asistennya Harry Tjong mampu unggul tipis 1 poin atas Jayakarta di klasemen akhir.
Akan tetapi, Warna Agung tidak pernah menjuarai Galatama lagi setelahnya, walaupun seringkali menjadi unggulan. Dominasi Warna Agung mampu dipatahkan oleh NIAC Mitra yang menjadi juara musim selanjutnya.
Warna Agung pada masanya keemasannya memiliki skuad bertabur bintang. Pemain seperti Ronny Pattinasarani, Rully Nere, Widodo C. Putro, dan Risdianto turut memperkuat barisan pemain Warna Agung.
Sayang, Warna Agung terpaksa dibubarkan sekitar tahun 1995-1996. Alasannya adalah sang pelatih, Drg. Endang Witarsa memutuskan untuk angkat kaki dari Warna Agung. Ia tak tahan dengan teror dari bandar judi. Hampir setiap pertandingan mereka selalu membujuknya untuk menerima sejumlah uang, meskipun skor laga itu harus diatur sesuai keinginan bandar. Liga Indonesia dan Galatama dahulu memang sering menjadi ladang uang bagi bandar pengaturan skor.
Situasi semakin buruk, karena Warna Agung terdegradasi ke Divisi 1 Liga Indonesia musim 1995/96. Setelah Drg. Endang Witarsa pergi, Warna Agung akhirnya dibubarkan.
4. Arseto
Arseto merupakan klub legendaris yang dimiliki oleh anak dari Presiden RI kedua Soeharto, yaitu Sigit Harjojudanto. Klub ini sempat menjuarai Galatama edisi 1992-93 dan Kejuaraan Klub ASEAN tahun 1993, serta berbagai piala lainnya.
Prestasi Arseto di Liga Champions Asia cukup membanggakan. Setelah menang atas Kota Rangers FC (Brunei) dan Thai Farmers Bank (Thailand), Arseto berhak maju ke tahap 7 besar melawan Yomiuri FC (Jepang), Al-Shabab (Arab Saudi), dan Muharraq Club (Bahrain). Sayang, Arseto tidak bisa bersaing dan tersingkir di babak 7 besar.
Arseto menelurkan banyak pemain berbakat. Pemain Seperti Miro Baldo Bento, Nasrul Koto, Ricky Yacobi, dan Rochy Putiray merupakan salah satu contohnya. Nasrul Koto dan Ricky Yacobi juga merupakan striker legendaris langganan Timnas Indonesia.
Arseto Solo dibubarkan pada tahun 1998. Penyebabnya? Reformasi. Ya, Arseto sendiri merupakan klub yang dimiliki oleh anak Soeharto, yakni Sigit Harjojudanto. Tentu saja, masyarakat saat itu menganggap semua hal yang berbau Soeharto adalah negatif. Termasuk Arseto. Bahkan, pada laga terakhirnya melawan Pelita Jaya, kerusuhan besar terjadi di dalam stadion. Membuat laga terpaksa dihentikan, begitu pula liganya.
Arseto akhirnya dibubarkan setelah 19 tahun 45 hari berdiri dan menjalani 487 pertandingan.
5. Yanita Utama
Yanita Utama awalnya bernama Jaka Utama dan berbasis di Tanjungkarang (kini Bandar Lampung). Jaka Utama tidak pernah memenangkan Galatama namun pemain-pemainnya pernah mewakili Lampung di PON 1981. Meski cukup suskes, Jaka Utama seringkali terlibat kasus pengaturan skor.
Pada tahun 1983, Jaka Utama dibeli oleh Pitoyo Haryanto, seorang pengusaha asal Bogor. Pitoyo lalu mengganti nama klub menjadi Yanita Utama dan memindahkan markas klub ke Stadion Pajajaran Bogor. Lalu, ia menggelar turnamen kecil Yanita Utama Cup 1983 yang digelar di Stadion Persija, Menteng. Ada 4 tim yang mengikuti kompetisi ini, Pardedetex, Mertju Buana, Arseto, dan Yanita Utama.
Yanita Utama mengikuti gelaran Galatama 1983/84 sebagai tim baru. Mereka harus melawan tim-tim unggulan seperti Krama Yudha Tiga Berlian, dan NIAC Mitra. Yanita Utama sebagai tim yang masih baru, akhirnya tembus ke babak final, sebuah pencapaian yang fantastis.
Melawan Mertju Buana (Medan), Yanita Utama berhasil menang lewat gol dari Bujang Nasrildi menit awal. Sekaligus membuat Yanita sebagai juara Galatama edisi 1983-84. Mereka berhasil melanjutkan dominasi juara mereka di tahun berikutnya, setelah unggul 2 poin dari UMS 80 di klasemen akhir.
Kesuksesan Yanita Utama tidak lepas dari para pemain bintang yang memperkuatnya. “Yanita klub yang dihuni pemain-pemain papan atas Indonesia. Ada Herry Kiswanto, Ruddy Keltjes, dan Djoko Malis" ujar Maura Helly, salah satu pemain yang turut mengantarkan Yanita juara. Pemain seperti Djoko Malis dan Ruddy William Keltjes merupakan pindahan dari NIAC Mitra. Mereka terpaksa pindah lantaran NIAC Mitra melakukan peremajaan dalam timnya.
Di kompetisi antarklub ASEAN, Yanita Utama juga mampu melaju jauh, walaupun akhirnya dikalahkan Bankok Bank 1-0 di babak final. Itu menjadi prestasi terakhir Yanita Utama, sebelum hilang bak ditelan bumi.
Yanita Utama yang sukses di Galatama musim 1983-84 dan 1984 tidak bisa melanjutkan streak juaranya. Pada tahun 1985, Yanita Utama bubar, dan kebanyakan pemainnya pindah ke klub Krama Yudha Tiga Berlian.
6. Krama Yudha Tiga Berlian
Krama Yudha Tiga Berlian merupakan klub legendaris yang berasal dari Palembang yang didirikan jauh sebelum Sriwijaya FC terbentuk. Tim ini didirikan oleh Sjarnoebi Said, dan dimiliki oleh PT. Krama Yudha Tiga Berlian Motor Palembang. Meski begitu, catatan arsip resmi tentang berdirinya KTB masih menjadi misteri.
Krama Yudha Tiga Berlian pernah memenangkan 2 gelar juara Galatama, serta sekali runner up pada musim 1990 setelah kalah dari Pelita Jaya. Kebanyakan pemain Krama Yudha saat itu merupakan pindahan dari Yanita Utama.
Krama Yudha sendiri sudah bubar pada tahun 1991. Ironisnya, di tahun itu juga KTB mengikuti Piala Winners Asia pertamanya. KTB pantas mewakili Indonesia lantaran memenangkan Piala Liga 1989. KTB melawan Geylang (Singapura) di babak pertama. KTB berhasil melaju ke babak 2 setelah menang gol tandang dalam skor agregat 3-3.
KTB lalu melaju menghadapi Dalian (Cina). Pertandingan diundur berkali-kali (pertama kali diundur karena cuaca) padahal KTB sudah sangat siap dengan meminjam berbagai pemain seperti Ajat Sudrajat (Persib), Robby Darwis (Persib), Fachri Husaini (Petrokimia Putra), Yusuf Ekodono (Persebaya), dan lain sebagainya. Pertandingan pun belum terlaksana. KTB akhirnya dinyatakan menang atas Dalian.
Berbagai masalah terus saja melanda KTB. Kipernya, Eddy Harto, terganggu mentalnya karena sempat kebobolan 12 kali di President's Cup Korsel 1991 saat membela Indonesia. KTB juga mundur dari Piala Winners Asia di tahun yang sama lantaran kecewa tidak ada keputusan yang tegas dari AFC terkait kasus Dalian.
KTB pun didiskualifikasi dari Piala Winners AFC. AFC mendenda KTB sebesar 3.000 dolar. KTB akhirnya bubar dan tidak dapat melanjutkan putaran kedua galatama musim 1990-92. Siapakah yang harus bertanggung jawab atas bubarnya KTB? Siapakah yang harus disalahkan?
Dalian? AFC? PSSI yang kurang tegas membela KTB? Timnas Indonesia? Sudahlah, lebih baik kita kenang saja peran KTB di kancah persepakbolaan Indonesia.
7. NIAC Mitra
NIAC Mitra awalnya bernama Mentos Surabaya berisikan karyawan dari perusahaan milik Agustinus Wenas. Klub ini berubah nama menjadi PS Mitra setelah mengikuti liga internal Persebaya.
PS Mitra berubah nama lagi menjadi New International Amusement Centre Mitra atau NIAC Mitra setelah Wenas memutuskan untuk mengubah klub menjadi semiprofesional pada tahun 1978. Ia membuat keputusan itu lantaran Mitra mampu menahan imbang Warna Agung 1-1 yang saat itu merupakan klub yang sangat kuat.
Kalau bisa dibilang, NIAC Mitra merupakan salah satu klub tersukses di era 80an sampai 90an. NIAC Mitra mengoleksi 3 gelar juara Galatama serta pernah menjadi runner up pada musim 1988-89.
NIAC Mitra menjadi sangat terkenal pada musim 1980-82 setelah melesakkan 102 gol, dengan pemainnya Syamsul Arifin menjadi top score dengan raihan 30 gol, diantaranya 7 gol saat melawan Tidar Sakti dalam pertandingan yang dimenangkan NIAC dengan skor besar 12-0. Mereka kembali membenamkan Tidar Sakti 11-0 pada tahun 1981, sebelum mencukur Cahaya Kita 14-0.
Apa rahasianya? Tentu saja pelatih yang berkualitas. Duet Will Coerver (mantan pelatih Timnas Indonesia) dan M. Basri (pelatih NIAC sebelumnya) membuat NIAC Mitra menjadi yang terbaik di Indonesia.
Prestasi paling membanggakan dari NIAC Mitra adalah mampu menggilas Arsenal 2-0! Arsenal saat itu diperkuat pemain terbaiknya seperti David O'Leary, Alan Sunderland, dan Pat Jennings mampu dikalahkan NIAC dengan skor 2-0 oleh gol dari Fandi Ahmad dan Djoko Malis. Pasukan Arsenal saat itu sudah terlalu lelah menjalani musim yang panjang serta tak mampu beradaptasi dengan panas Surabaya. Tentu saja mereka mudah dihajar David Lee dan kawan-kawan. Walaupun begitu, menang ya menang. Arsenal dengan berbagai alasannya masih saja dikalahkan oleh pasukan NIAC Mitra.
Sayang seribu sayang, NIAC Mitra dibubarkan pada tahun 1990, akibat dari berbagai masalah yang melanda klub. Mulai dari Ketum PSSI Sjarnoebi Said yang melarang klub Galatama memakai jasa pemain asing, hingga tidak ada kekompakan didalam tim. Sebelum resmi dibubarkan, NIAC menggelar laga perpisahan melawan Johor, namun mereka dikalahkan 1-5. NIAC Mitra dibeli oleh Dahlan Iskan, bos Jawa Pos, sebelum berpindah nama menjadi Mitra Kalteng Putra, lalu sekarang menjadi Mitra Kukar, klub yang kini berkompetisi di Liga 2.
8. Mertju Buana
Mertju Buana merupakan klub galatama asal Kota Medan dan didirikan oleh adik tiri Soeharto, yakni Probosutedjo. Pemain Mertju Buana dahulu bermain untuk Sumatera Utara di ajang PON 1981 sebelum dikalahkan Lampung yang bermaterikan pemain Jaka Utama di babak final. Mertju Buana adalah klub papan atas galatama, namun selalu tercoreng oleh kasus pengaturan skor.
Mertju Buana pernah memiliki winger hebat yaitu Djadjang Nurdjaman, serta Bambang Nurdiansyah. Mertju Buana sempat ke final galatama musim 1983-84 sebelum dikalahkan Yanita Utama.
Namun, Mertju Buana sering terjerat kasus pengaturan skor. Hal ini membuat Probosutedjo kecewa. “Belakangan saya tahu bahwa pemain-pemain di klub saya sudah disuap dan mereka mau menerimanya. Bukan main kecewanya saya. Mertju Buana kemudian saya tutup. Tidak ada pentingnya mengembangkan klub yang sudah dikotori mental suap,” kata Probosutedjo. Ia memutuskan untuk membubarkan Mertju Buana sekitar tahun 1985.
9. Union Make Strength (UMS 80)
UMS 80 bisa dibilang merupakan salah satu klub paling bersejarah di Galatama. UMS lebih dikenal sebagai pabrik pemain muda Persija ketimbang rekornya di kompetisi nasional. Maka, saya akan bercerita sedikit panjang tentang UMS dan hubungannya dengan Persija.
Dahulu, sekitar tahun 1900-an, penduduk Jakarta (dahulu Batavia) terdiri dari berbagai macam etnis. Dari Tionghoa, Jawa, Batak, Bugis, Maluku, hingga Belanda, dan hampir setiap etnis memiliki POR (Perkumpulan Olah Raga), yang terdiri dari berbagai atlet dari etnis yang sama, dan bertujuan untuk mengeratkan hubungan melalui bidang olahraga.
Etnis Tionghoa sendiri memiliki POR yang bernama Tiong Hoa Oen Tong Hwee atau THOTH (didirikan 15 Desember 1905) yang hanya berkecimpung di cabang olahraga atletik dan bola keranjang, sepakbola belum terkenal di zaman itu.
Namun, seiring perkembangan zaman, banyak POR yang mulai berkecimpung di cabang olahraga sepakbola, tak terkecuali THOTH. THOTH membentuk klub sepakbola Pa Hoa FC yang didirikan pada 2 Agustus 1912. Namun, para pendiri Pa Hoa memutuskan bahwa tanggal 15 Desember (hari berdirinya POR THOTH) sebagai hari lahir Pa Hoa. Dua tahun kemudian, Pa Hoa berubah nama menjadi UMS (Union Make Strength).
Saat awal berdirinya UMS, klub yang baru jadi tersebut belum memiliki lapangan sendiri. Awalnya, UMS menyewa lapangan klub sepakbola Donar (Tjih Ying Wei), setelah itu mereka menyewa kebun singkong milik Haji Manaf dengan tarif 6 gulden (mata uang Belanda) per bulan. Ingin memiliki lapangan sendiri, Oey Keng Seng dan Louw Hap Ic, dua diantara banyak pendiri UMS lainnya, memutuskan untuk membeli kebun singkong Haji Manaf dan mengubahnya menjadi lapangan sepakbola.
UMS memiliki musuh bebuyutan bernama Chun Hwa Tjing Nen Hui, yang kini dikenal sebagai Tunas Jaya. Klub ini didirikan oleh ayah dari pemain legenda Persija Tan Liong Houw, yakni Tan Chin Hoat, pada tahun 1939. Persaingan UMS dan Tunas Jaya sangat ketat, para pemain dituntut untuk tidak kalah melawan Tunas Jaya.
UMS dahulu berada di bawah naungan Voetbal Bond Batavia Omstreken (VBO) pada tahun 1920. UMS pernah menjuarai VBO sebanyak 7 kali. UMS juga merupakan klub pencetak pemain berbakat, beberapa pemainnya bahkan masuk kedalam skuat Timnas Indonesia dalam ajang Piala Dunia 1938.
Pada tahun 1951, NIVU (Nederlandsch Indische Voetbal Unie) yaitu asosiasi sepakbola Hindia Belanda yang menaungi VBO bubar, termasuk VBO-nya sendiri. VBO bergabung dengan VIJ (Voetbalbond Indonische Jacatra) yang nantinya berubah nama menjadi Persija. UMS dan Tunas Jaya lantas bergabung dengan Persija, sekaligus mencetak pemain-pemain hebat bagi Persija dan Timnas Indonesia. Pemain-pemain seperti Endang Witarsa, Thio Him Tjiang, Kwee Kiat Sek, hingga Djamiat Dalhar merupakan produk dari UMS.
Pada tahun 1980, UMS bergabung ke Galatama dengan nama UMS 80. Mereka hanya berlaga sampai tahun 1984 dan pernah mendapat predikat runner up sekali pada musim 1984 setelah kalah 2-0 di final dari Yanita Utama.
UMS masih eksis hingga sekarang. Bersama Tunas Jaya, UMS sering menjadi juara maupun runner up kompetisi internal Persija. Dan diharapkan dua klub ini terus mencetak pemain berkualitas seperti dahulu.
10. Indonesia Muda
Awalnya, Indonesia Muda merupakan organisasi pemuda yang diresmikan pada tanggal 31 Desember 1930 yang merupakan penggabungan dari organisasi Jong Java, Jong Sumatra, dan Pemuda Indonesia. Dahulu, Indonesia Muda merupakan salah satu organisasi yang memprakarsai kemerdekaan Indonesia. Beberapa tokoh yang turut terlibat organisasi ini adalah Abulrachman Saleh, Amir Hamzah, Assaat, Mohammad Yamin, Ibu Sud atau Saridjah Niung, Sukarni, dan lain-lain.
Setelah Indonesia merdeka, Indonesia Muda beralih ke bidang kesenian dan olahraga. Tim sepakbola Indonesia Muda didirikan tahun 1956/1957 dan bermarkas di Salemba Tengah, Jakarta Pusat. IM (Indonesia Muda) saat itu juga berkecimpung di cabang olahraga lain seperti bowling, basket, tenis, golf, voli, dan cabang olahraga lain.
Pada tahun 1979, Galatama dibentuk dan Indonesia Muda menjadi salah satu diantara 14 tim yang mengikuti kompetisi tersebut. Pemain Indonesia Muda saat itu seperti Hadi Ismanto (topskor), Dede Sulaeman (topskor musim 1982-83), Rony Paslah, Johanes Auri, dll. Indonesia Muda saat itu menempati peringkat ketiga Galatama dibawah Jayakarta dan Warna Agung sang juara.
Layaknya tim Pardedetex, Mertju Buana, UMS, dan beberapa tim lainnya, Indonesia Muda tiba-tiba hilang bak ditelan bumi pada tahun 1984. Yang tersisa hanyalah memori indah di masa lalu.
11. Pelita Jaya
Nama Pelita Jaya mungkin sudah tidak asing lagi di telinga para pecinta sepakbola Indonesia. Klub ini lumayan populer, dan sebenarnya masih eksis hingga sekarang.
Pelita Jaya berdiri pada 11 November 1986 di bawah PT. Nirwana Pelita Jaya. Tim ini awalnya bermarkas di Stadion Lebak Bulus, Jakarta. Dalam musim pertamanya, Pelita Jaya mencapai posisi kedua atau runner up setelah kalah 4-2 di final. Prestasi yang hebat, apalagi di musim perdana. Semusim kemudian, Pelita Jaya kembali menjadi runner up setelah kalah 3-1 dari NIAC Mitra di final
Musim selanjutnya, Pelita Jaya berhasil menjuarai Galatama edisi 1988-89. Klub yang baru seumur jagung itu sudah 2 kali runner up serta sekali juara. Musim berikutnya lagi, elita Jaya kembali menjadi kampiun. Uniknya, Pelita Jaya berhasil revans atas kekalahannya dari Krama Yudha dan NIAC Mitra pada kedua final itu. Pelita Jaya kembali menjuarai edisi terakhir, yakni 1993-94 sekaligus menambah koleksi trofi mereka.
Selain terkenal akan prestasinya, Pelita Jaya juga terkenal sebagai tim yang hobi gonta-ganti nama dan stadion kandang. Tercatat sudah 10 kali tim ini berganti nama karena pergantian sponsor dan stadion kandang.
Pertama kali Pelita Jaya berganti nama pada tahun 1997, saat itu berubah menjadi Pelita Mastrans (Masyarakat Transportasi), mencantumkan nama pemilik saham mayoritas. Lalu berubah lagi menjadi Pelita Bakrie pada 1998-1999 lalu berubah lagi menjadi Pelita Solo pada periode 2000-2002 (pindah ke Stadion Manahan Solo). Setelah itu berubah lagi menjadi Pelita Krakatau Steel karena pindah kandang ke Stadion Krakatau Steel, pada 2002-2006.
Belum selesai juga, Pelita KS pindah markas ke Stadion Purnawarman Purwakarta dan berganti nama menjadi Pelita Jaya Purwakarta sampai tahun 2007. Pada 2008, Pelita pindah ke Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, Bandung dan berganti nama menjadi Pelita Jabar.
Tahun 2010, pindah lagi ke Stadion Singaperbangsa, Karawang dan berubah nama menjadi Pelita Jaya Karawang. Pelita Jaya Karawang lalu merger dengan Bandung Raya FC dan berganti nama menjadi Pelita Bandung Raya (PBR) dan kembali pindah ke Stadion Si Jalak Harupat pada tahun 2012.
Kemudian, Persipasi membeli sebagian saham PBR dan menghilangkan nama "Pelita" dan menggantinya dengan Persipasi, serta memindahkan markas klub ke Stadion Patriot Chandrabraga, Bekasi. Untuk pertama kalinya setelah 28 tahun, nama Pelita lenyap dari persepakbolaan Indonesia.
Persipasi Bandung Raya hanya bertahan sampai 2016 ketika kepemilikan saham berpindah ke salah satu tokoh masyarakat Madura, yakni Achsanul Qosasi. Ia lalu memindahkan klub ke Madura dan mengganti namanya menjadi Madura United. Nama itu masih bertahan hingga sekarang (2021).
Meski tak konsisten soal nama dan stadion, Pelita Jaya cukup konsisten dalam soal prestasi. Pelita Jaya pernah menyabet 3 gelar juara Galatama dan sekali Piala Utama pada era Galatama. Namun, Pelita Jaya belum pernah memenangkan gelar apa-apa di era Liga Indonesia.
Madura United pun terkini menempati peringkat ke-5 (klasemen 2019). Sementara di musim 2020-21 Laskar Sape Kerap, julukan Madura United, menempati peringkat ke-8 sebelum liga dihentikan akibat pandemi virus corona.
Pelita Jaya juga terkenal akan kehebatan pemainnya. Pelita Jaya pernah merekrut 3 pemain asing kelas piala dunia, yakni Roger Milla (Kamerun), Maboang Kessack (Kamerun), Dejan Gluscevic (Kroasia), Pedro Pasculli (Argentina), dan Mario Kempes (Argentina).
Pelita Jaya sempat dijuluki Los Galacticos pada musim kompetisi 2011-2012. Maklum saja, komposisi pemain Pelita Jaya Karawang (bermarkas di Karawang) saat itu diisi oleh Greg Nwokolo, Aleksander Bajevski, Egi Melgiansyah, Ruben Sanadi, Victor Igbonefo, Safee Sali, dan Dedi Kusnandar. Pelita Jaya memang sudah terlahir sebagai tim hebat, oleh karena itu pemainnya harus hebat pula.
Itulah 10 klub sepakbola legendaris di era Galatama. Semoga bisa menambah ilmu pengetahuan kalian. Maaf jika ada kesalahan. Salam Olahraga!
Komentar
Posting Komentar